Ponselku kembali menyala. Bagi sebagian orang, notifikasi WhatsApp mungkin membawa kabar menyenangkan. Tapi bagiku belakangan ini, membuka aplikasi hijau itu terasa seperti masuk ke dalam ruang rapat yang tak pernah bubar.

Sebagai mahasiswa semester tujuh yang juga harus membagi kepala untuk urusan organisasi, kerja sampingan, hingga merintis pekerjaan utama, waktuku seolah bukan lagi milikku sendiri. Layar HP adalah pengingat daftar tugas, bukan lagi sekadar alat untuk bertukar sapa.

Seminggu yang lalu, di tengah segala penat itu, aku menyempatkan diri bertemu dengannya. Seseorang yang sebenarnya menjadi salah satu alasanku bekerja keras. Namun, alih-alih kehangatan, yang hadir di antara kami sore itu justru awan mendung.

Dia kesal. Sangat kesal.

“Kamu jarang banget luangin waktu. Kita jarang ketemu, jarang main, bahkan jarang komunikasi,” keluhnya, memecah keheningan.

Saat kalimat itu meluncur, insting pertamaku adalah membela diri. Aku merasa harus menjelaskan semuanya. Aku mengeluarkan semua kartu logis yang kumiliki: betapa lelahnya aku, betapa menumpuknya deadline, dan betapa aku sama sekali tidak sedang mencari-cari alasan. Aku ingin dia tahu bahwa setiap detik yang kuhabiskan di depan layar, setiap baris kode atau pekerjaan yang kuselesaikan, adalah bentuk tanggung jawabku.

Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Rentetan jadwalku yang padat rupanya terdengar seperti tembok raksasa di telinganya. Penjelasanku, yang kuanggap sebagai kejujuran, ditangkapnya sebagai alasan untuk menghindar.

Di titik itu, rasanya menyesakkan. Aku merasa lelah karena usahaku bertahan di tengah tekanan seolah tak dihargai. Sementara dia merasa sedih karena keberadaannya seolah tak lagi menjadi prioritas. Kami sama-sama terluka oleh hal yang sebenarnya tidak kami sengaja.

Butuh waktu, jarak, dan sebuah perenungan panjang untuk akhirnya aku menyadari satu hal: sore itu, kami sedang berbicara dengan dua bahasa yang sama sekali berbeda.

Aku berbicara dengan bahasa logika, membeberkan jadwal dan meminta pengertian atas duniaku yang sedang riuh. Sementara dia berbicara dengan bahasa emosi, meminta kepastian bahwa di tengah keriuhan itu, dia masih memiliki ruang.

Selama ini aku keliru. Saat dia menuntut waktu, aku menyodorkan jadwal. Padahal, mungkin yang ia butuhkan bukanlah rincian kesibukanku. Yang ia butuhkan hanyalah diriku yang berani jujur, menurunkan gengsi, dan terlihat rentan di hadapannya.

Mungkin, semuanya akan jauh lebih baik andai saat itu aku sekadar menggenggam tangannya dan berkata, “Aku capek sekali belakangan ini. Kepalaku penuh, badanku rasanya mau rontok menghadapi semua ini. Aku butuh kamu, tapi aku bingung bagaimana membagi waktunya.”

Menjadi seseorang yang ambisius, yang percaya bahwa kreativitas dan sistem kerja itu tak terbatas, memang hal yang esensial untuk membangun masa depan. Tapi, sebuah hubungan berjalan dengan aturan yang berbeda. Harus ada batas yang jelas kapan layar harus ditutup, dan kapan hati harus sepenuhnya dibuka.

Ini bukan tentang siapa yang menang berdebat soal waktu, melainkan tentang menyelaraskan kembali ekspektasi. Besok pagi, deadline itu mungkin masih akan menyapaku tanpa ampun. Namun satu hal yang pasti, aku harus memastikan bahwa di tengah semua itu, dia tidak pernah merasa harus bersaing dengan kesibukanku lagi.